Timnas Indonesia mengaku telah mengantongi kekuatan Oman yang akan dihadapi pada kualifikasi Piala Asia 2011 Qatar, Senin (19/1).
Informasi kekuatan Oman tersebut didapat setelah Badan Tim Nasional (BTN) mendapat rekaman pertandingan. Dan, rekaman pertandingan itulah yang sekarang sedang dipelajari dengan serius oleh Pelatih Timnas Benny Dollo.
“Rekaman pertandingan ini memberi gambaran bahwa Oman itu bukan tim lemah. Paling tidak, Bendol (panggilan Benny Dollo) punya bekal, sehingga latihan di Sawangan lebih terarah,” ujar Ketua BTN Rahim Soekasah kemarin. Bendol pun mengakui sudah mempelajari rekaman Oman. Menurut dia, Oman adalah tim dengan beberapa kelebihan.
Kekuatan tim Negara Teluk ini banyak memainkan umpan-umpan pendek yang dinamis dan cepat. Kemampuan ini didukung dengan kemampuan dalam melepas umpan silang dari sayap. “Skill pemain mereka sangat merata. Keunggulan lainnya adalah postur tubuh mereka lebih besar dibanding pemain kita,” ujar Bendol.
Karena itu, Bendol menegaskan, serangan Oman harus dipatahkan sebelum masuk area tengah. Sebab, pemain gelandang mereka sangat aktif menusuk ke jantung pertahanan jika striker mereka mendapat pengawalan ketat. Selain itu, serangan Oman banyak dimulai dari sektor sayap yang berpeluang mencetak gol melalui sundulan kepala.
Meski begitu, Bendol menegaskan tak pernah gentar dengan pasukan Claude Le Roy. Mantan pelatih Persita dan Arema ini tetap yakin bakal mencuri angka pertama di kandang Oman. Apalagi, Charis Yulianto dkk memiliki keunggulan dalam hal kecepatan pemain.“ Kami juga harus bermain ngotot dan jangan membiarkan lawan mendikte permainan,” ujarnya.
Apalagi, Bendol memiliki pengalaman melawan tim dari Negeri Teluk sejak menukangi timnas Januari 2008 silam. Pertama adalah melawan Yaman pada laga uji coba, kedua saat menghadapi Libya di Final Piala Kemerdekaan. Pengalaman melawan Libya dan Yaman jadi modal tambahan Bendol mengukur kekuatan Oman.
“Kekuatan Oman sedikit banyak ada kesamaan dengan Yaman maupun Libya,” tukas Bendol. Sementara itu, latihan Jumat (2/1) kemarin masih belum komplit. Latihan yang digelar pada pukul 07.00 WIB itu hanya diikuti 25 pemain, sebab Boaz belum bergabung. Sedangkan Ponaryo Astaman masih dibekap cedera paha. Namun, keterlambatan Boaz masih ditoleransi karena dia sudah berangkat dari Papua. [mohammad sahlan/sindo]
Minggu, 04 Januari 2009
Selasa, 23 Desember 2008
Bejo Merapat ke Deltras
Eks kapten Persebaya Surabaya, "Bejo" Sugiantoro dikabarkan merapat ke klub Jawa Timur lainnya, Deltras Sidoarjo. Konon, nilai kontrak yang ditawarkan Deltras sebesar Rp. 250 juta untuk setengah musim.
Bejo sendiri merupakan satu dari tujuh pemain yang resmi dilepas Persebaya karena tak setuju dengan rasionalisasi kontrak oleh manajemen.
"Saya hanya ingin mendapat klub yang dekat dengan daerah saya tinggal seperti Deltras, Persela Lamongan atau Arema Malang,'' kata mantan libero timnas itu.
Sementara itu manajer Deltras, George Handiwiyanto, hanya tinggal menunggu kesepakatan nilai kontrak yang ditawarkan sebesar Rp. 250 juta.
"Nilai itu hampir separuh dari nilai kontrak Bejo saat membela Persebaya sebesar Rp. 550 juta,'' ujar George.
Bila menjadi kenyataan, lini belakang tim berjuluk The Lobster itu akan semakin kuat jelang Liga Super Indonesia putaran kedua awal Januari. Mereka akan menjamu Persita Tangerang di Stadion Delta, Minggu (4/1) mendatang.
Sebelumnya sudah ada nama Firmansyah, M. Khusen, Bayu Sutha, Christian Rene Martinez, Hermawan dan dua rekrutan baru yakni Hermansyah dan Purwaka Yudhi.
Di ajang Copa sendiri, Deltras sudah lolos ke babak 16 besar usai mengandaskan tim asal Papua, Persidafon Dafonsoro dengan agregat akhir 6-0.
Bejo sendiri merupakan satu dari tujuh pemain yang resmi dilepas Persebaya karena tak setuju dengan rasionalisasi kontrak oleh manajemen.
"Saya hanya ingin mendapat klub yang dekat dengan daerah saya tinggal seperti Deltras, Persela Lamongan atau Arema Malang,'' kata mantan libero timnas itu.
Sementara itu manajer Deltras, George Handiwiyanto, hanya tinggal menunggu kesepakatan nilai kontrak yang ditawarkan sebesar Rp. 250 juta.
"Nilai itu hampir separuh dari nilai kontrak Bejo saat membela Persebaya sebesar Rp. 550 juta,'' ujar George.
Bila menjadi kenyataan, lini belakang tim berjuluk The Lobster itu akan semakin kuat jelang Liga Super Indonesia putaran kedua awal Januari. Mereka akan menjamu Persita Tangerang di Stadion Delta, Minggu (4/1) mendatang.
Sebelumnya sudah ada nama Firmansyah, M. Khusen, Bayu Sutha, Christian Rene Martinez, Hermawan dan dua rekrutan baru yakni Hermansyah dan Purwaka Yudhi.
Di ajang Copa sendiri, Deltras sudah lolos ke babak 16 besar usai mengandaskan tim asal Papua, Persidafon Dafonsoro dengan agregat akhir 6-0.
SFC Dapat Lampu Hijau dari Budi
SFC Dapat Lampu Hijau dari Budi
Sriwijaya FC (SFC) mendapatkan lampu hijau untuk merekrut striker Persik Kediri, Budi Sudarsono. Sang pemain mengatakan kalau SFC menjadi prioritas utamanya usai ia membereskan semua masalah dengan Persik.
Masalah yang dimaksud penyerang berjuluk "Si Ular Phyton" itu tak lain menyangkut haknya di Persik yang belum diselesaikan.
"Saya masih punya gaji selama dua bulan di Persik yang belum dibayar. Lumayan besar,'' kata Budi.
Diperkirakan, gaji pemain yang mencetak empat gol di AFF Suzuki Cup 2008 itu sebesar Rp. 90 juta per-bulannya. Jadi, bila dikalikan dua, maka gajinya sebesar Rp. 180 juta belum dibayar.
"Saya hanya menuntut hak saya saja. Setelah itu, saya bebas menentukan nasib sendiri,'' tambahnya.
Sebenarnya, klub Pelita Jaya Jawa Barat juga berniat dengan pemain yang selalu menggunakan nomor punggung 13 itu. Namun, Budi tampaknya tak terlalu berminat karena Pelita hanya berniat meminjam, beda dengan SFC yang ingin mengontraknya semusim.
Kabar ini pun disambut gembira manajer SFC, Baryadi, yang dengan setia menunggu perkembangan Budi.
"Budi kami proyeksikan untuk tampil di Liga Champions Asia,'' ujarnya singkat.
Pengundian LCA sendiri baru dilakukan 7 Januari 2009 mendatang di Abu Dhabi, United Arab Emirates (UAE). Namun dalam situs resmi AFC, SFC harus melakoni away perdana lawan klub asal Jepang.
Benson Terganjal Surat Keluar
Sementara itu dari Malang, pemain asing asal Liberia, Esaiah Pello Benson belum bisa bernafas lega untuk kembali klub lamanya, PSIS Semarang.
Benson belum bisa menandatangani kontrak di PSIS karena belum memiliki surat keluar dari klub sebelumnya, Arema Malang.
"Sikap Benson kami sesalkan. Dia pindah klub, namun urusannnya di sini belum selesai,'' ujar Manajer Arema. M. Taufan.
Yang jadi permasalahan, Benson meminta kompensasi gaji yang tertera di nilai kontraknya. Sedangkan manajemen Arema, hanya ingin membayarkan satu kali gaji saja.
Dari tujuh pemain Arema yang dibuang, hanya Bemson sja yang belum mengantongi surat keluar tersebut. Bila masalah ini berlarut-larut, bisa dipastikan nasibnya akan menggantung saat putaran kedua dimulai.
(Edp)
Sriwijaya FC (SFC) mendapatkan lampu hijau untuk merekrut striker Persik Kediri, Budi Sudarsono. Sang pemain mengatakan kalau SFC menjadi prioritas utamanya usai ia membereskan semua masalah dengan Persik.
Masalah yang dimaksud penyerang berjuluk "Si Ular Phyton" itu tak lain menyangkut haknya di Persik yang belum diselesaikan.
"Saya masih punya gaji selama dua bulan di Persik yang belum dibayar. Lumayan besar,'' kata Budi.
Diperkirakan, gaji pemain yang mencetak empat gol di AFF Suzuki Cup 2008 itu sebesar Rp. 90 juta per-bulannya. Jadi, bila dikalikan dua, maka gajinya sebesar Rp. 180 juta belum dibayar.
"Saya hanya menuntut hak saya saja. Setelah itu, saya bebas menentukan nasib sendiri,'' tambahnya.
Sebenarnya, klub Pelita Jaya Jawa Barat juga berniat dengan pemain yang selalu menggunakan nomor punggung 13 itu. Namun, Budi tampaknya tak terlalu berminat karena Pelita hanya berniat meminjam, beda dengan SFC yang ingin mengontraknya semusim.
Kabar ini pun disambut gembira manajer SFC, Baryadi, yang dengan setia menunggu perkembangan Budi.
"Budi kami proyeksikan untuk tampil di Liga Champions Asia,'' ujarnya singkat.
Pengundian LCA sendiri baru dilakukan 7 Januari 2009 mendatang di Abu Dhabi, United Arab Emirates (UAE). Namun dalam situs resmi AFC, SFC harus melakoni away perdana lawan klub asal Jepang.
Benson Terganjal Surat Keluar
Sementara itu dari Malang, pemain asing asal Liberia, Esaiah Pello Benson belum bisa bernafas lega untuk kembali klub lamanya, PSIS Semarang.
Benson belum bisa menandatangani kontrak di PSIS karena belum memiliki surat keluar dari klub sebelumnya, Arema Malang.
"Sikap Benson kami sesalkan. Dia pindah klub, namun urusannnya di sini belum selesai,'' ujar Manajer Arema. M. Taufan.
Yang jadi permasalahan, Benson meminta kompensasi gaji yang tertera di nilai kontraknya. Sedangkan manajemen Arema, hanya ingin membayarkan satu kali gaji saja.
Dari tujuh pemain Arema yang dibuang, hanya Bemson sja yang belum mengantongi surat keluar tersebut. Bila masalah ini berlarut-larut, bisa dipastikan nasibnya akan menggantung saat putaran kedua dimulai.
(Edp)
Jumat, 19 Desember 2008
Mereka Masih Ada!!
Memang kekalahan yang didapatkan ketika TImnas Indonesia menghadapi Thailand pada pertandingan pertama semifinal piala AFF,namun apa yang di lakukan oleh suporter Indonesia merupakan sebuah pengabdian yang menembus segala batas.
Mereka menembus batas klub,mereka juga menembus batas daerah,mereka juga menembus batas bahasa hanya untuk memberikan sokongan moral buat tim kesayangan mereka Tim Merah putih.
Tarian dan nyanyian yang menggema seantero senayan seakan menyayat di setiap gendang telinga penikmat TImnas merah putih,meski mereka tidak berada di stadion Gelora Bung Karno namun jiwa dan harapan mereka terbang disana.
Tidak peduli kekalahan demi kekalahan dan kegagalan demi kegagalan yang di persembahkan para suporter Indonesia dengan segala atribut kebesaran tetep berada di belakang Tim Garuda.
MEREKA MASIH ADA!!
Mereka menembus batas klub,mereka juga menembus batas daerah,mereka juga menembus batas bahasa hanya untuk memberikan sokongan moral buat tim kesayangan mereka Tim Merah putih.
Tarian dan nyanyian yang menggema seantero senayan seakan menyayat di setiap gendang telinga penikmat TImnas merah putih,meski mereka tidak berada di stadion Gelora Bung Karno namun jiwa dan harapan mereka terbang disana.
Tidak peduli kekalahan demi kekalahan dan kegagalan demi kegagalan yang di persembahkan para suporter Indonesia dengan segala atribut kebesaran tetep berada di belakang Tim Garuda.
MEREKA MASIH ADA!!
Selasa, 16 Desember 2008
Jelang Hadapai Thailand, Bendol Mulai Panik
Pelatih timnas Indonesia Benny Dollo (foto) tampak panik jelang menghadapi Thailand di leg pertama babak semi-final Piala AFF Suzuki 2008 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Selasa (16/12) malam.
Hal itu dapat dilihat dengan pernyataan pelatih bertubuh tambun yang akrab di sapa Bendol ini, dalam memberikan keterangan pers di Hotel The Sultan, Jakarta, Senin. Menurutnya, beban yang dihadapi jelang melawan Thailand cukup berat.
"Saya sudah menyatakan kepada ketua umum (Nurdin Halid) saat berkunjung di kediamannya tadi malam. Jujur saja, saya tidak kuat menahan 'Tsunami' ini sendiri. Saya butuh dukungan semua pihak. Bagaimana pun, ini adalah tugas kita semua," tegasnya.
Pernyataan tersebut menyiratkan jika Bendol sudah mulai panik menghadapi beban mental jelang melakoni laga krusial melawan Thailand. Padahal sebagai pelatih kepala, ia harus sanggup menahan beban seberat apa pun. Terebih jika itu terkait dengan prestasi anak asuhnya.
Pada kesempatan itu, Bendol pun kembali mengeluhkan waktu persiapan yang menurutnya sangat minim. Padahal, semula ia selalu menyatakan optimisnya bisa mempersembahkan juara AFF musim ini. Menurutnya, dengan mepetnya persiapan, tidak banyak yang bisa dilakukan. [Goal]
Hal itu dapat dilihat dengan pernyataan pelatih bertubuh tambun yang akrab di sapa Bendol ini, dalam memberikan keterangan pers di Hotel The Sultan, Jakarta, Senin. Menurutnya, beban yang dihadapi jelang melawan Thailand cukup berat.
"Saya sudah menyatakan kepada ketua umum (Nurdin Halid) saat berkunjung di kediamannya tadi malam. Jujur saja, saya tidak kuat menahan 'Tsunami' ini sendiri. Saya butuh dukungan semua pihak. Bagaimana pun, ini adalah tugas kita semua," tegasnya.
Pernyataan tersebut menyiratkan jika Bendol sudah mulai panik menghadapi beban mental jelang melakoni laga krusial melawan Thailand. Padahal sebagai pelatih kepala, ia harus sanggup menahan beban seberat apa pun. Terebih jika itu terkait dengan prestasi anak asuhnya.
Pada kesempatan itu, Bendol pun kembali mengeluhkan waktu persiapan yang menurutnya sangat minim. Padahal, semula ia selalu menyatakan optimisnya bisa mempersembahkan juara AFF musim ini. Menurutnya, dengan mepetnya persiapan, tidak banyak yang bisa dilakukan. [Goal]
Senin, 15 Desember 2008
Komparasi Bendol vs Peter Reid
Indonesia akan bersua Thailand di semifinal leg pertama Piala AFF 2008, Selasa, 16 Desember 2008, besok. Dua arsitek masing-masing kubu, Benny Dollo dan Peter Reid, akan menjadi sosok penting di balik dua tim yang akan berlaga.
Kalau dilihat curriculum vitae kedua pelatih, Dollo punya sejarah kepelatihan yang lebih panjang ketimbang Reid. Bendol, begitu Benny Dollo biasa disapa, pertama kali menjadi pelatih tahun 1983. Ia saat itu menangani klub UMS 80.
Peter Reid di tahun 1983, masih aktif menjadi pemain di Everton. Pria yang kini berusia 52 tahun itu baru mulai melatih, sambil tetap berperan sebagai pemain, pada tahun 1990. Klub yang ditukangi jelas lebih tersohor, Manchester City.
Setelah melatih City selama tiga tahun, ia baru kembali menangani sebuah tim pada tahun 1995. Reid, yang kala perempatfinal Piala Dunia 1986 adalah salah satu dari pemain Inggris yang kepayahan mengejar Maradona sebelum pemain Argentina itu mencetak gol kedua, di tahun 1995 menangani Sunderland selama tujuh tahun, kemudian Leeds United (8 bulan), Coventry (7 bulan).
Coventry adalah klub terakhir yang ia tangani. Reid dari tahun 1995 menjadi pengangguran sebelum akhirnya dipilih untuk menangani timnas Thailand. Di level klub tak ada gelar juara yang berhasil ia raih bersama anak asuhnya. Baru bersama Thailand, ia sukses merasakan gelar dengan menjuarai T&T Cup setelah mengalahkan Korea Utara dan main imbang melawan tuan rumah Vietnam.
Benny Dollo, kalau dilihat dari kesuksesan membawa timnya juara, jelas lebih baik. Tiga kali ia membawa Arema Malang menjadi juara yakni di divisi satu (2004) dan Copa Indonesia (2005 dan 2006). Bersama timnas, Bendol satu kali merasakan gelar juara yakni di Piala Kemerdekaan 2008.
Melawan Thailand besok, tantangan besar harus dihadapi Bendol. Momok menakutkan Thailand harus mampu diatasi agar perjuangan di leg kedua 20 Desember mendatang tidak harus berubah menjadi sebuah mission impossible belaka. [vivanews]
Kalau dilihat curriculum vitae kedua pelatih, Dollo punya sejarah kepelatihan yang lebih panjang ketimbang Reid. Bendol, begitu Benny Dollo biasa disapa, pertama kali menjadi pelatih tahun 1983. Ia saat itu menangani klub UMS 80.
Peter Reid di tahun 1983, masih aktif menjadi pemain di Everton. Pria yang kini berusia 52 tahun itu baru mulai melatih, sambil tetap berperan sebagai pemain, pada tahun 1990. Klub yang ditukangi jelas lebih tersohor, Manchester City.
Setelah melatih City selama tiga tahun, ia baru kembali menangani sebuah tim pada tahun 1995. Reid, yang kala perempatfinal Piala Dunia 1986 adalah salah satu dari pemain Inggris yang kepayahan mengejar Maradona sebelum pemain Argentina itu mencetak gol kedua, di tahun 1995 menangani Sunderland selama tujuh tahun, kemudian Leeds United (8 bulan), Coventry (7 bulan).
Coventry adalah klub terakhir yang ia tangani. Reid dari tahun 1995 menjadi pengangguran sebelum akhirnya dipilih untuk menangani timnas Thailand. Di level klub tak ada gelar juara yang berhasil ia raih bersama anak asuhnya. Baru bersama Thailand, ia sukses merasakan gelar dengan menjuarai T&T Cup setelah mengalahkan Korea Utara dan main imbang melawan tuan rumah Vietnam.
Benny Dollo, kalau dilihat dari kesuksesan membawa timnya juara, jelas lebih baik. Tiga kali ia membawa Arema Malang menjadi juara yakni di divisi satu (2004) dan Copa Indonesia (2005 dan 2006). Bersama timnas, Bendol satu kali merasakan gelar juara yakni di Piala Kemerdekaan 2008.
Melawan Thailand besok, tantangan besar harus dihadapi Bendol. Momok menakutkan Thailand harus mampu diatasi agar perjuangan di leg kedua 20 Desember mendatang tidak harus berubah menjadi sebuah mission impossible belaka. [vivanews]
Sabtu, 13 Desember 2008
Burhanudin Bayu Saputra, Pemain Timnas U-16 yang Digembleng di Uruguay
Di antara 25 pemain muda timnas U-16, ada satu yang berasal dari Kartasura, Sukoharjo. Burhanudin Bayu Saputra namanya. Bocah itu menjadi wakil eks Karesidenan Surakarta yang lolos ke Uruguay. Setelah menimba ilmu sebelas bulan di Uruguay, Bayu pulang ke rumahnya di Ngadirejo, Kartasura, Sukoharjo.
''Dua sampai tiga hari setelah di sana (Uruguay), saya dan teman-teman masih sulit mencari makanan yang cocok. Kami terpaksa tidak makan dalam jangka waktu itu. Untuk menjaga kondisi, kami hanya minum susu,'' ujar Bayu mengawali pembicaraan dengan Radar Solo (Jawa Pos Group) yang bertandang ke rumahnya kemarin (11/12).
Hilangnya selera makan tersebut langsung berimbas pada permainan di lapangan. Mereka kurang memiliki tenaga untuk berlatih sesuai dengan instruksi pelatih. Kondisi itu diperparah dengan cuaca yang tak bersahabat.
Beruntung, duet pelatih timnas asal Uruguay Carlos Molinari Martiner dan Cesar Payavich Perez memberikan keringanan. Mereka memberi pemain waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan di Uruguay. Mulai menu makanan, cuaca, lapangan, hingga teknik latihan.
Untuk program dan materi latihan, menurut Bayu, tak terlalu banyak perbedaannya dengan yang mereka terima di tanah air. Hanya, yang lebih menonjol adalah faktor kedisiplinan di lapangan. "Setiap kegiatan selalu terprogram. Bahkan, tiap detik latihan pemain diberi tanggung jawab untuk memenuhi apa yang ditargetkan pelatih," beber Bayu.
Selain mengadakan training center di Uruguay, tim tersebut mengikuti kompetisi liga remaja di sana. Dari dua kali putaran, timnas U-16 menduduki posisi papan bawah. Di antara 24 kontestan, timnas hanya mampu nangkring di posisi ke-19. Kondisi tak jauh beda dialami saat putaran kedua. ''Lapangan yang digunakan untuk kompetisi buruk. Beda saat latihan. Jadi, permainan kami tidak berkembang,'' dalihnya.
Di luar kompetisi, Bayu selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk berkomunikasi dengan keluarga. Telepon menjadi satu-satunya cara untuk bisa dekat dengan keluarga. Sayang, perbedaan waktu antara Uruguay dan Indonesia yang cukup ekstrem (hampir terpaut 12 jam) membuat komunikasi dengan keluarga sering terkendala. ''Kadang saat saya selesai latihan dan ingin telepon ke rumah, bapak-ibu baru sibuk kerja. Begitu juga sebaliknya. Jadi, harus pandai-pandai pilih waktu,'' terang Bayu.
Selama mengenyam pendidikan di Uruguay, Bayu dkk tak melulu dijejali ilmu sepak bola. Mereka juga diberi bekal pengetahuan lain. Mulai kursus bahasa Spanyol, mengenal beberapa tempat di Uruguay, hingga urusan ibadah.
Khusus hal terakhir, Bayu dkk terpaksa menempuh jarak jauh untuk bisa melakukan salat Jumat. Para pemain timnas terpaksa harus boyongan ke Kedubes Mesir di Montevideo hanya untuk Jumatan. Sebab, di sanalah ada satu-satunya tempat di Uruguay yang mengadakan salat Jumat. Mengenai kursus bahasa Spanyol, Bayu menyebut diberikan sebagai bekal komunikasi. Sebab, bahasa itu menjadi bahasa utama di Uruguay, selain bahasa Inggris.
Saat berlibur di kampung halaman, para pemain masih diberi tanggung jawab untuk berlatih. ''Pelatih memberikan program latihan yang wajib dilakukan pemain di sini. Latihan ini ditujukan untuk menjaga kemampuan serta rasa tanggung jawab,'' papar dia.
Program latihan itulah yang akan dilakukan setiap hari dalam tiga bulan ke depan. Sebab, anak pertama pasangan Senen dan Sri Suyamti tersebut menyatakan terinspirasi dengan tim lawan di Uruguay. Dua di antara para pemain tim lawan yang menjadi teman berlatih dan bertanding kini sudah berseragam klub besar Eropa. Untuk musim depan, mereka resmi dikontrak Chelsea dan Real Madrid. ''Pengin juga main di luar negeri. Tapi, saya lebih senang main di Indonesia, seperti di Pelita Jaya dan Sriwijaya FC,'' pungkasnya. [jawapos]
''Dua sampai tiga hari setelah di sana (Uruguay), saya dan teman-teman masih sulit mencari makanan yang cocok. Kami terpaksa tidak makan dalam jangka waktu itu. Untuk menjaga kondisi, kami hanya minum susu,'' ujar Bayu mengawali pembicaraan dengan Radar Solo (Jawa Pos Group) yang bertandang ke rumahnya kemarin (11/12).
Hilangnya selera makan tersebut langsung berimbas pada permainan di lapangan. Mereka kurang memiliki tenaga untuk berlatih sesuai dengan instruksi pelatih. Kondisi itu diperparah dengan cuaca yang tak bersahabat.
Beruntung, duet pelatih timnas asal Uruguay Carlos Molinari Martiner dan Cesar Payavich Perez memberikan keringanan. Mereka memberi pemain waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan di Uruguay. Mulai menu makanan, cuaca, lapangan, hingga teknik latihan.
Untuk program dan materi latihan, menurut Bayu, tak terlalu banyak perbedaannya dengan yang mereka terima di tanah air. Hanya, yang lebih menonjol adalah faktor kedisiplinan di lapangan. "Setiap kegiatan selalu terprogram. Bahkan, tiap detik latihan pemain diberi tanggung jawab untuk memenuhi apa yang ditargetkan pelatih," beber Bayu.
Selain mengadakan training center di Uruguay, tim tersebut mengikuti kompetisi liga remaja di sana. Dari dua kali putaran, timnas U-16 menduduki posisi papan bawah. Di antara 24 kontestan, timnas hanya mampu nangkring di posisi ke-19. Kondisi tak jauh beda dialami saat putaran kedua. ''Lapangan yang digunakan untuk kompetisi buruk. Beda saat latihan. Jadi, permainan kami tidak berkembang,'' dalihnya.
Di luar kompetisi, Bayu selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk berkomunikasi dengan keluarga. Telepon menjadi satu-satunya cara untuk bisa dekat dengan keluarga. Sayang, perbedaan waktu antara Uruguay dan Indonesia yang cukup ekstrem (hampir terpaut 12 jam) membuat komunikasi dengan keluarga sering terkendala. ''Kadang saat saya selesai latihan dan ingin telepon ke rumah, bapak-ibu baru sibuk kerja. Begitu juga sebaliknya. Jadi, harus pandai-pandai pilih waktu,'' terang Bayu.
Selama mengenyam pendidikan di Uruguay, Bayu dkk tak melulu dijejali ilmu sepak bola. Mereka juga diberi bekal pengetahuan lain. Mulai kursus bahasa Spanyol, mengenal beberapa tempat di Uruguay, hingga urusan ibadah.
Khusus hal terakhir, Bayu dkk terpaksa menempuh jarak jauh untuk bisa melakukan salat Jumat. Para pemain timnas terpaksa harus boyongan ke Kedubes Mesir di Montevideo hanya untuk Jumatan. Sebab, di sanalah ada satu-satunya tempat di Uruguay yang mengadakan salat Jumat. Mengenai kursus bahasa Spanyol, Bayu menyebut diberikan sebagai bekal komunikasi. Sebab, bahasa itu menjadi bahasa utama di Uruguay, selain bahasa Inggris.
Saat berlibur di kampung halaman, para pemain masih diberi tanggung jawab untuk berlatih. ''Pelatih memberikan program latihan yang wajib dilakukan pemain di sini. Latihan ini ditujukan untuk menjaga kemampuan serta rasa tanggung jawab,'' papar dia.
Program latihan itulah yang akan dilakukan setiap hari dalam tiga bulan ke depan. Sebab, anak pertama pasangan Senen dan Sri Suyamti tersebut menyatakan terinspirasi dengan tim lawan di Uruguay. Dua di antara para pemain tim lawan yang menjadi teman berlatih dan bertanding kini sudah berseragam klub besar Eropa. Untuk musim depan, mereka resmi dikontrak Chelsea dan Real Madrid. ''Pengin juga main di luar negeri. Tapi, saya lebih senang main di Indonesia, seperti di Pelita Jaya dan Sriwijaya FC,'' pungkasnya. [jawapos]
Langganan:
Postingan (Atom)